Sunday, February 22, 2015

Begini tata cara hukuman mati di Indonesia

Hukuman mati dilakukan di Indonesia oleh regu tembak

Biasanya di lakukan tengah malam di tempat terpencil, diterangi oleh lampu sorot

Masyarakat tidak diizinkan untuk menyaksikan eksekusi.

Anggota brigade elit paramiliter Kepolisian Brimob membentuk regu tembak

Dokter memberikan tanda hitam pada pakaian narapidana tepat di jantung sebagai sasaran tembak



Regu tembak terdiri dari 12 orang bersenjata namun hanya tiga dari mereka benar-benar memiliki peluru tajam- sisanya kosong, sehingga tidak ada yang tahu siapa yang memiliki peluru tajam dan yang kosong.

Hal ini untuk memudahkan hati nurani regu tembak sehingga tidak ada yang tahu siapa yang melepaskan tembakan pembunuh

Bisa menghukum menjalani hukuman dalam posisi berdiri, duduk atau berlutut, tergantung kebutuhan.

Jika perlu terpidana juga dapat dikaitkan dengan sandaran tertentu

Jarak tembak sendiri minimal 5 meter dan maksimal 10 meter.

Napi bisa memilih untuk memakai tutup kepala atau tidak dan dapat didampingi rohaniawan sampai saat-saat terakhir

Jika setelah eksekusi mati terpidana belum terlihat meninggal, Kepala Tim bintara memerintahkan untuk menembak dari jarak dekat tepat di atas telinga terpidana sebagai tembakan akhir

Untuk memastikan terpidana telah meninggal, maka dokter akan memeriksanya

Setelah pelaksanaan terpidana mati diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Jika tidak ada kerabat atau teman-teman yang menerima maka penguburan tubuhnya diserahkan kepada Negara

Jika terbukti bersalah hamil, maka eksekusi hukuman mati hanya dapat dilakukan empat puluh hari setelah anaknya lahir